Selasa, 29 November 2011

IS IT ABOUT THE TIME?

Jarum jam hampir mendekati angka 4. Temanku nampak sudah siap berdiri di depan komputer penghitung waktu. Saatnya hampir tiba. Jam 3.57 pm temanku akan menggesekkan kartu pegawainya dan memilih menu "clock out" untuk mengakhiri jam kerjanya hari ini.

"Is it about the time?" aku bertanya padanya.
"2 minutes left" jawabnya.
"It's not bad" jawabku.
"Yeah" jawabnya.

Percakapan ini seringkali kami lakukan. Utamanya di hari Senin sampai Kamis, karena dia tidak bekerja di hari Jum'at. Percakapan yang sebenarnya sama dan terkesan sebagai basa-basi. Namun aku tidak menganggapnya demikian. Kenapa begitu? Karena dari percakapan yang nyaris sama di setiap sorenya, aku merasa lama-lama kami bisa berbagi banyak cerita. 

Cerita yang barangkali juga gak penting-penting amat, seperti apa rencana sepulang kantor, siapa yang memasak makan malam, kapan jadwal pertandingan football berikutnya, bagaimana kabar orangtua, bagaimana ramalan cuaca malam ini dan aneka topik obrolan ringan. Ya ... Selama 2 atau 3 menit sebelum temanku pulang, kami bisa mengobrolkan apa saja.

Kalimat "Is it about the time?" pun menjadi bagian dari cerita dan pengalamanku sehari-hari. Sambil menunggu temanku presensi sebelum pulang, kami gunakan waktu yang ada untuk ngobrol. Dari sini, aku banyak belajar hal baru. Ya ... Hanya dengan memanfaatkan waktu kurang dari 5 menit, aku memperoleh tambahan pengetahuan ....

HOW MUCH DO YOU LOVE ME?

"Tell me, how much do you love me?" tanya temanku pada ibunya lewat telpon.
Nampaknya ibunya memberikan jawaban yang menyenangkan hati temanku. Kulihat temanku tersenyum.
"Then, can you drive her home?" lanjut temanku pada ibunya.
Sesudahnya percakapan via telpon itu selesai.

Hampir setiap hari temanku menelpon ibunya. Bisa tiga sampai empat kali sehari. Kata temanku, selain untuk memastikan ibunya baik-baik saja, kadang-kadang temanku memerlukan pertolongan ibunya untuk mengantar jemput anaknya sekolah. Maklum, temanku musti berangkat pagi-pagi dari rumah dan sampai di rumah kembali selepas jam 5 sore. Otomatis, kegiatan antar jemput anaknya pun diserahkan pada ibunya.

Ibu temanku berusia 70-an tahun. Ini kudengar dari ceritanya saja. Secara pribadi aku belum pernah bertemu beliau, hanya pernah melihatnya melalui foto keluarga yang dibawa temanku ke kantor. Aku tahu temanku ini sangat memerlukan ibunya, terlebih di saat dirinya sibuk bekerja seperti saat ini. Dia pernah bilang, tanpa pertolongan ibunya, dia yakin akan sangat repot, sulit dan mahal baginya untuk mencarikan siapa yang bisa mengantar jemput anaknya. Karenya, kehadiran ibunya sangatlah berarti baginya.

Kalimat "How much do you love me?" yang kemudian diikuti permintaan untuk melakukan sesuatu (demi membuktikan besarnya cinta) rasanya agak janggal di telingaku. Ya ... Baru kali ini aku mendengar pertanyaan yang diikuti permintaan seperti ini. Barangkali hal ini merupakan sesuatu yang wajar diucapkan oleh masyarakat asli sini. Namun, menjadi sesuatu yang menarik bagiku saat aku mendengarnya langsung hari ini.

Pandangan mengenai cinta yang perlu dibuktikan memang bukan sesuatu yang mudah untuk dibenarkan atau disalahkan. Semua memiliki argumen masing-masing terhadap cara pandang yang seperti ini. Diskusi mengenai hal ini pun barangkali akan menarik, karena setiap alasan yang dikemukakan bisa jadi ada benarnya dan logis.

Yang paling penting bagiku, cinta tidak untuk dimanipulasi. Atau juga, cinta tidak bisa dipaksa untuk diwujudkan. Kenapa? Entahlah ... Jawabannya berpulang pada diri kita masing-masing ...

Kamis, 24 November 2011

DON'T GIVE HER CASH ...

"Did you do the (DNA) test?" tanya temanku pada salah satu staf cleaning.
"I did. I am waiting for the result this Friday" jawab si staf.
"Does you meet him regularly?" tanyaku pada si staf.
"No ... His mom doesn't allow me to see him" jawab si staf lagi.

Pembicaraan siang ini adalah mengenai anak laki-laki staf cleaning yang tinggal bersama ibunya. Kata staf cleaning tadi, pada suatu hari, ibu anak ini datang padanya dan mengatakan bahwa dia ayah biologis si anak. Saat mendengar kalimat ini, staf cleaning percaya begitu saja. Sekalipun staf cleaning dan ibu anak tadi tidak tinggal bersama, si staf cleaning berusaha memenuhi kebutuhan anak tersebut.

Sampai pada suatu saat, staf cleaning ini merasa ada sesuatu yang disembunyikan ibu anak ini. Dia merasa ragu apakah anak tersebut benar anaknya. Maka, staf cleaning tadi kemudian meminta si anak diteskan DNA-nya untuk dicocokkan dengan hasil tes DNA si staf.

Kata si staf " His mom called me several times asking for money and his need."
Lanjutnya "I gave her cash and also brought some stuffs for the kid."
Kata temanku "Don't you think about not giving her cash? You can give her a check."
Kata si staf "I didn't think about it before. Once I gave her 100 box and I gave her some more other times."
Kata temanku "Didn't you think about keeping the evidence? At least you have something to keep as evidence if you give her a check other than money. You can show her your responsibility when she needs it sometime in the future."
Si staf menjawab "Yeah ... That would be a good idea."

Saran temanku pada si staf cleaning untuk menunjukkan tanggung jawab secara financial pada ibu anak itu memang masuk akal. Setidaknya, akan ada bukti yang bisa ditunjukkan pada ibu anak itu saat diperlukan. 

Kupandang wajah si staf dari tempat dudukku. Nampak si staf sedikit murung. Aku pun ikut prihatin mendengar kisahnya. Sebuah kisah hidup yang tidak terlalu menyenangkan untuk diceritakan. Sebuah kisah hidup yang tidak seorangpun menginginkannya. 

Saat kudengar staf cleaning itu mengatakan "I'd be very depressed if the result (of the DNA test) shows he is not my son," aku tidak tahu apa lagi yang musti kukatakan. Jum'at minggu ini, hidupnya mungkin akan berubah setelah hasil tes keluar. Mungkin dia akan tetap bertanggungjwab untuk memenuhi kebutuhan anak itu, mungkin juga tidak. Kalau dia harus terus bertanggungjwab, mungkin dia akan melaksanakan apa yang dikatakan temanku "Don't give her cash" agar ada bukti yang bisa ditunjukkannnya saat diperlukan suatu hari nanti ...  

Sebuah pelajaran yang barangkali tidak lazim terjadi di tempat dimana aku dibesarkan ... Ketika orang tua tidak tinggal bersama anak, bentuk tanggung jawab keuangan mungkin tidak  sebaiknya dibeikan dalam bentuk tunai, melainkan berupa cek atau bukti transfer agar ketika diperlukan bukti tanggung jawab, ada sesuatu yang bisa ditunjukkan ...

I AM HAPPY I MADE A MISTAKE ...

Kalimat ini kudengar dari temanku saat kami sedang asyik menata berkas. Ketika itu suasana lumayan sepi, sehingga kami tidak perlu terlalu terburu-buru dalam menyelesaikan penataan berkas ini. 

"I am happy I made a mistake" kata temanku saat dia keliru mengambil berkas dan aku mengkoreksinya.
"Yeah ... You learn from your mistake. I promise you won't make the same mistake in the future" begitu jawabku.

Kalimat "I am happy I made a mistake" sungguh gak biasa kudengar. Baru kali ini aku mendengar seseorang mengungkapkan hal ini. Kalimat ini rupanya merupakan salah satu kalimat yang umum diucapkan untuk pemula yang sedang mempelajari sesuatu yang baru.

Selama ini, banyak yang menganggap melakukan suatu kekeliruan bukanlah sebagai sesuatu yang menyenangkan hati. Umumnya saat kita melakukan kekeliruan, kita akan merasa kurang nyaman. Namun hari ini perspektifku tentang melakukan suatu kekeliruan berubah. Saat aku mendengar kalimat ini, aku tahu melakukan sebuah kekeliruan tidak selalu memiliki makna tidak menyenangkan. Justru, melakukan kesalahan merupakan sebuah pengalaman yang menggembirakan. Kenapa begitu? Karena dengan melakukan kekeliruan, kita kemudian akan belajar sesuatu yang baru dan benar. 

Bagiku, kalimat ini kemudian terasa sebagai kalimat yang menguatkan hati seseorang untuk tidak perlu takut ketika melakukan kekeliruan. Ketika kita melakukan kekeliruan dan merasa tidak nyaman, kita perlu ingat kalimat "I am happy I made a mistake" ini. Kalimat ini akan memberikan energi bagi kita untuk memahami bahwa kekeliruan bisa jadi merupakan bagian dari sebuah proses pembelajaran.


Rasanya memang kontradiktif saat kita mendengar kalimat ini. Tetapi, kalau kita rasakan makna yang terkandung dalam kalimat ini terasa seperti energi positif. Dengan mendengar atau mengucapkan kalimat ini, mereka yang sedang memulai proses belajarnya tidak perlu takut saat melakukan kekeliruan. Pandanglah kekeliruan sebagai salah satu bagian dari proses pembelajaran ....

Rabu, 23 November 2011

HE WAS CHEATING ...

Kudengar obrolan antara 2 orang temanku di kantor selepas istirahat siang hari ini.
"Why did they break up?" tanya temanku.
"She thought he cheated on her" jawab temanku satunya.
"What did he do?" tanya temanku lagi.
"He got a text from a girl and he replied it. She thought he was cheating" jawab temanku yang ditanya.

Sebuah percakapan mengenai anak gadis temanku yang sedang patah hati. Kata temanku, anak gadisnya benar-benar sedih karena patah hati. Dia menganggap pacarnya tidak setia. Karenanya, dia memutuskan pacarnya.

"How long they've been together?" tanya temanku lagi.
"One year" jawab temanku yang punya anak gadis.
"Hm ..." kata temanku lagi.

Nampak temanku yang menanyakan masalah ini ikut merasa prihatin. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku bayangkan temanku - ibu anak gadis ini - akan sangat berhati-hati saat berbicara dengan anaknya. Maklum, anak gadisnya sedang dalam suasana sensitif. Suasana hati yang sangat peka dan mudah tersinggung. 

Anak gadis temanku berusia 17 tahun. Menurut temanku, anak gadisnya ini lebih peduli pada kondisinya hari ini daripada memikirkan masa depannya. Sekali dia pernah memenangkan kontes Home Coming Queen. Dalam event pemilihan putri di wilayah kami, dia memenangkan Miss Evening Gown. Ya ... Anak ini memang menarik secara fisik. Dalam bayanganku, anak ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena penampilan fisiknya yang sangat menarik.

Namun, kedewasaan dirinya rupanya belum tercapai. Temanku mengatakan, anak ini masih belum mandiri. Masih banyak hal - yang bersifat sederhana dan mendasar - yang belum bisa diputuskannya. Emosinya pun masih belum stabil. Masih sering keputusannya diambil berdasarkan emosi semata. Termasuk ketika sekali itu dia menemukan pacarnya membalas text yang dikirim oleh anak perempuan lain. Dia pun kemudian memutuskan menyudahi hubungan spesial mereka. Apakah anak gadis itu sedang menunjukkan ketegasan sikapnya - bahwa dia tidak mau disepelekan? Ataukah anak ini sebenarnya belum dewasa, karena dia terlalu mencurigai pacarnya yang dianggapnya tidak setia?  

He was cheating ... Ya ... Itulah anggapan anak gadis temanku, saat dia tahu pacarnya membalas pesan singkat yang datang dari seorang gadis ... 

IT DROVE ME NUT ...

Kudengar kalimat ini datang dari temanku pagi ini. Awalnya aku kurang tahu apa yang dimaksudnya, namun kemudian aku mengerti duduk persoalannya. Masalahnya adalah pembayaran pajak. Akhir minggu ini dia harus membayar pajak untuk property yang dimilikinya. Jumlahnya sekitar 1200 dolar.

Pagi ini, saat dia menghubungi kantor pajak untuk mengurus pembayaran tagihannya, dia diminta menunggu untuk dihubungkan dengan staf yang berwenang. Kurang lebih 13 menit dia menunggu, tidak ada hasil yang diperolehnya.

"It drove me nut" katanya padaku.
"Can you believe it's been 13 minutes and I still had to wait to speak with one of them?" lanjutnya.
"I hang the phone" katanya lagi.

Aku mengerti maksudnya. Sangat jarang ditemui pelayanan publik di negara ini tidak memenuhi standardnya. Temanku merasa pagi ini pelayanan yang dia terima sangat tidak menyenangkan. Dan hal ini membuatnya kesal. Karenanya, dia putuskan telepon setelah dia kesal menunggu selama kurang lebih 13 menit.

Sesaat kemudian dia mencoba menghubungi kantor ini kembali. Saat dia berbicara dengan staf yang sama, dia mengeluhkan kenapa dia harus menunggu selama ini. Nampaknya temanku kemudian mendapatkan penjelasan atas apa yang terjadi. Kemudian temanku disambungkan dengan staf yang dimaksud dan dia menyampaikan apa yang menjadi concern-nya. Pada akhirnya semuanya jelas. Temanku pun merasa semua pertanyaannya terjawab. 

Sebuah pelajaran baru untukku hari ini ... Jangan takut untuk menyampaikan permasalahan dan keluhan atas pelayanan yang kurang baik yang kita terima ... Utamanya, ketika kita berhadapan dengan "public service staf" ...

I MISS HER ...

"How's your baby?" tanyaku pada temanku pagi itu.
"She's fine" jawabnya ...
"She changed since she moved out" lanjut temanku.
"I miss her a lot ..." katanya lagi.

Yang kumaksud baby adalah anak perempuan temanku yang sedang menginjak masa remaja. Temanku pernah bercerita padaku anak perempuannya ini hidup dengan ayahnya. Dia memilih hidup dengan ayahnya karena dia merasa lebih leluasa mengatur hidupnya. Anak ini merasa lebih bebas dengan hidup bersama ayahnya.

Temanku hanya bertemu dengan buah hatinya beberapa kali dalam sebulan. Kadang-kadang, saat temanku merindukannya dan mencoba menelponnya, anak ini tidak mengangkat telpon tersebut. Temanku sering merasa sedih karenanya. Ketika dia berbagi cerita denganku mengenai hal ini, aku prihatin dan bersimpati padanya. Sungguh sebuah situasi yang tidak menyenangkan. 

Kerinduan yang dipendam temanku untuk sekedar berbicara dengan buah hatinya lama-lama menjadi bagian dari kesehariannya. Saat kerinduan itu datang dan dicobanya menghubungi buah hati, dia tahu, hasilnya tidak selalu menggembirakan. Tetapi dia tidak pernah menyerah. Texting atau SMS dikirimnya untuk buah hatinya ini. Sekalipun tidak ada balasan, setidaknya rasa rindunya sudah disampaikannya.

"I miss her ... " sungguh sebuah kalimat yang sarat makna. Apalagi saat kalimat ini muncul dari orangtua yang sungguh mengasihi anaknya. Harapanku simpel saja, semoga anak ini mengerti apa yang dirasakan orang tuanya dan mau menjawab telpon yang datang dari seseorang yang sungguh mengasihinya ...