Rabu, 23 November 2011

HE WAS CHEATING ...

Kudengar obrolan antara 2 orang temanku di kantor selepas istirahat siang hari ini.
"Why did they break up?" tanya temanku.
"She thought he cheated on her" jawab temanku satunya.
"What did he do?" tanya temanku lagi.
"He got a text from a girl and he replied it. She thought he was cheating" jawab temanku yang ditanya.

Sebuah percakapan mengenai anak gadis temanku yang sedang patah hati. Kata temanku, anak gadisnya benar-benar sedih karena patah hati. Dia menganggap pacarnya tidak setia. Karenanya, dia memutuskan pacarnya.

"How long they've been together?" tanya temanku lagi.
"One year" jawab temanku yang punya anak gadis.
"Hm ..." kata temanku lagi.

Nampak temanku yang menanyakan masalah ini ikut merasa prihatin. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku bayangkan temanku - ibu anak gadis ini - akan sangat berhati-hati saat berbicara dengan anaknya. Maklum, anak gadisnya sedang dalam suasana sensitif. Suasana hati yang sangat peka dan mudah tersinggung. 

Anak gadis temanku berusia 17 tahun. Menurut temanku, anak gadisnya ini lebih peduli pada kondisinya hari ini daripada memikirkan masa depannya. Sekali dia pernah memenangkan kontes Home Coming Queen. Dalam event pemilihan putri di wilayah kami, dia memenangkan Miss Evening Gown. Ya ... Anak ini memang menarik secara fisik. Dalam bayanganku, anak ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena penampilan fisiknya yang sangat menarik.

Namun, kedewasaan dirinya rupanya belum tercapai. Temanku mengatakan, anak ini masih belum mandiri. Masih banyak hal - yang bersifat sederhana dan mendasar - yang belum bisa diputuskannya. Emosinya pun masih belum stabil. Masih sering keputusannya diambil berdasarkan emosi semata. Termasuk ketika sekali itu dia menemukan pacarnya membalas text yang dikirim oleh anak perempuan lain. Dia pun kemudian memutuskan menyudahi hubungan spesial mereka. Apakah anak gadis itu sedang menunjukkan ketegasan sikapnya - bahwa dia tidak mau disepelekan? Ataukah anak ini sebenarnya belum dewasa, karena dia terlalu mencurigai pacarnya yang dianggapnya tidak setia?  

He was cheating ... Ya ... Itulah anggapan anak gadis temanku, saat dia tahu pacarnya membalas pesan singkat yang datang dari seorang gadis ... 

IT DROVE ME NUT ...

Kudengar kalimat ini datang dari temanku pagi ini. Awalnya aku kurang tahu apa yang dimaksudnya, namun kemudian aku mengerti duduk persoalannya. Masalahnya adalah pembayaran pajak. Akhir minggu ini dia harus membayar pajak untuk property yang dimilikinya. Jumlahnya sekitar 1200 dolar.

Pagi ini, saat dia menghubungi kantor pajak untuk mengurus pembayaran tagihannya, dia diminta menunggu untuk dihubungkan dengan staf yang berwenang. Kurang lebih 13 menit dia menunggu, tidak ada hasil yang diperolehnya.

"It drove me nut" katanya padaku.
"Can you believe it's been 13 minutes and I still had to wait to speak with one of them?" lanjutnya.
"I hang the phone" katanya lagi.

Aku mengerti maksudnya. Sangat jarang ditemui pelayanan publik di negara ini tidak memenuhi standardnya. Temanku merasa pagi ini pelayanan yang dia terima sangat tidak menyenangkan. Dan hal ini membuatnya kesal. Karenanya, dia putuskan telepon setelah dia kesal menunggu selama kurang lebih 13 menit.

Sesaat kemudian dia mencoba menghubungi kantor ini kembali. Saat dia berbicara dengan staf yang sama, dia mengeluhkan kenapa dia harus menunggu selama ini. Nampaknya temanku kemudian mendapatkan penjelasan atas apa yang terjadi. Kemudian temanku disambungkan dengan staf yang dimaksud dan dia menyampaikan apa yang menjadi concern-nya. Pada akhirnya semuanya jelas. Temanku pun merasa semua pertanyaannya terjawab. 

Sebuah pelajaran baru untukku hari ini ... Jangan takut untuk menyampaikan permasalahan dan keluhan atas pelayanan yang kurang baik yang kita terima ... Utamanya, ketika kita berhadapan dengan "public service staf" ...

I MISS HER ...

"How's your baby?" tanyaku pada temanku pagi itu.
"She's fine" jawabnya ...
"She changed since she moved out" lanjut temanku.
"I miss her a lot ..." katanya lagi.

Yang kumaksud baby adalah anak perempuan temanku yang sedang menginjak masa remaja. Temanku pernah bercerita padaku anak perempuannya ini hidup dengan ayahnya. Dia memilih hidup dengan ayahnya karena dia merasa lebih leluasa mengatur hidupnya. Anak ini merasa lebih bebas dengan hidup bersama ayahnya.

Temanku hanya bertemu dengan buah hatinya beberapa kali dalam sebulan. Kadang-kadang, saat temanku merindukannya dan mencoba menelponnya, anak ini tidak mengangkat telpon tersebut. Temanku sering merasa sedih karenanya. Ketika dia berbagi cerita denganku mengenai hal ini, aku prihatin dan bersimpati padanya. Sungguh sebuah situasi yang tidak menyenangkan. 

Kerinduan yang dipendam temanku untuk sekedar berbicara dengan buah hatinya lama-lama menjadi bagian dari kesehariannya. Saat kerinduan itu datang dan dicobanya menghubungi buah hati, dia tahu, hasilnya tidak selalu menggembirakan. Tetapi dia tidak pernah menyerah. Texting atau SMS dikirimnya untuk buah hatinya ini. Sekalipun tidak ada balasan, setidaknya rasa rindunya sudah disampaikannya.

"I miss her ... " sungguh sebuah kalimat yang sarat makna. Apalagi saat kalimat ini muncul dari orangtua yang sungguh mengasihi anaknya. Harapanku simpel saja, semoga anak ini mengerti apa yang dirasakan orang tuanya dan mau menjawab telpon yang datang dari seseorang yang sungguh mengasihinya ...

Senin, 21 November 2011

ARE YOU HAPPY?

"Are you happy?" tanya temanku pada salah satu staf maintenance pagi ini.
"Yes, I am. I am very happy" jawabnya ...

Pertanyaan dan jawaban ini sangat sering kudengar. Setiap kali si staf maintenance mampir, setiap kali itu pula temanku akan menanyakan pertanyaan ini. Pertanyaan yang sama dan jawaban yang diberikan pun hampir selalu sama. Kadang dalam satu hari, pertanyaan ini diulang lebih dari sekali. Dan selalu pula, jawaban yang diberikan sama.

Sebuah pertanyaan yang nampaknya hanya merupakan basa-basi antara teman sekerja. Sebuah pertanyaan yang rasanya menjadi biasa saja karena selalu dilontarkan pada orang yang sama. Tetapi, benarkah pertanyaan ini tidak ada maknanya sama sekali?

Bagiku, pertanyaan ini memiliki makna yang sangat dalam. "Are you happy?" sesungguhnya bukan sekedar pertanyaan basa-basi. Saat temanku menanyakan hal ini pada si staf tersebut, sesungguhnya ada perhatian yang ditujukan pada si staf maintenance. Penting bagi si staf maintenance untuk menyadari perhatian temanku. Temanku peduli apakah si staf merasa berbahagia hari ini atau tidak. Menurutku, dengan bertanya, sebenarnya temanku ingin si staf merasa berbahagia hari ini. Kenapa bisa begitu? Dengan menjawab "I am very happy today" secara psikologis jawaban atas pertanyaan ini akan mempengaruhi perasaan si staf hari ini. Saat si staf menjawab "I am happy" aku yakin pikiran dan perasaannya akan bersinergi untuk mewujudkan kebahagiaan di hari itu. Jawabannya yang spontan, akan terbawa dalam pikiran, tindakan dan perasaannya.

"Are you happy?" nampaknya bukan lagi merupakan sebuah pertanyaan sederhana. "Are you happy?" adalah sebuah pertanyaan  yang memicu seseorang memiliki perasaan dan suasana positif, sebuah pertanyaan yang mendorong seseorang menjalani hari itu dengan bahagia. Kalau hari dijalani dengan perasaan bahagia, terbayang kan betapa positifnya energi yang akan dikeluarkan saat berkarya? Hasil karya pun menjadi optimal ...

"Are you happy?" nampaknya pertanyaan ini juga berlaku untukku dalam menjalani hari-hariku ...

Rabu, 16 November 2011

IT STRESSED ME OUT ...

"It stressed me out" kata salah satu staf di pagi mendung ini.
"Which one?" tanya seorang staf lainnya.
"Everything" jawab si staf tadi.

It stressed me out. Sebuah kalimat yang sangat umum diucapkan di sini. Tidak selalu harus berhubungan dengan pekerjaan. Semua hal yang dirasa menjadi beban atau tidak menyenangkan, umumnya dianggap sebagai penyebab stress/tertekan.

"You know I stress everyday" lanjut staf yang mengatakan It stress me out.
"Yeah ... We are worry about everything ... We are worry that we can't afford anything ... That's why we stress ..." jawab staf satunya.

Dari percakapan tersebut, satu staf menganalisa penyebab stress. Ternyata penyebab stres adalah kecemasan atau ketakutan (berlebihan) akan sesuatu. Terutama, takut atau cemas yang diakibatkan ketidakmampuan mengatasi suatu masalah. Percakapan kemudian menjadi semakin intens tentang apa yang terjadi dan apa yang dirasakan. Ujung-ujungnya adalah bagaimana mencari jalan keluar dari persoalan tersebut.

Hmmmm ... Sebuah percakapan yang menarik. Percakapan tentang kecemasan dan ketakutan yang wajar dialami seseorang. Percakapan yang kemudian menjadi sharring singkat akan apa yang sedang dialami dan dirasakan. Ya ... Dua staf tadi kemudian saling curhat ...

Sebuah cara sharring yang unik ... Diawali dengan kalimat "It stressed me out" perasaan cemas dan takut pun kemudian terurai dan stress pun berkurang atau menghilang ...

Selasa, 15 November 2011

I TRY TO BE SUPERWOMAN ...

"I try to be superwoman," kata salah satu staf pada temanku.
"Yeah ... We work too hard for everything," jawab temanku.
"But still, we are left behind for so many stuffs," jawab staf itu lagi.
"You can ask for a new helper," saran temanku.
"That's what I heard when I moved here. I haven't got one, though," jawabnya.

Sebuah percakapan tentang load pekerjaan di hari Selasa. Lagu yang sama sebenarnya. Di saat pekerjaan sedang banyak dan perlu bantuan sesorang, pekerjaan yang dikerjakan seorang diri menjadi terlalu banyak. Karenanya, staf ini kemudian curhat pada temanku.

Ungkapan "I try to be superwoman" sungguh menarik hatiku. Rasanya aku hanya pernah mendengar kalimat seperti ini dalam film. Kenyataannya hari ini aku mendengar kalimat ini terucap dari salah satu staf. Sebuah kalimat yang rupanya bisa diucapkan siapa saja. Sebuah kalimat yang menyiratkan harapan bahwa si staf akan mampu melakukan dan menyelesaikan banyak hal sendirian. Sebuah kalimat yang memiliki nada positif. Sebuah kalimat yang mengandung harapan akan energi lebih yang dimiliki untuk menyelesaikan banyak hal.

I try to be superwoman ... Sungguh sebuah kalimat yang membuatku bersemangat ... 

I WILL TRY ...

Jawaban ini kudengar dari salah satu pasien (penghuni apartmen) yang sedang menjalani cancer treatment di rumah sakit terbesar di kota ini. Pasien ini menghuni salah satu ruang khusus untuk pasien yang disediakan oleh apartmen ini. Dari daftar yang kami terima, pasien ini akan tinggal di sini selama 2 bulan atau 8 minggu. Setahuku, treatment biasanya dilakukan seminggu sekali dan paket treatment untuk masing-masing pasien tidaklah sama. Ada yang perlu treatment sebulan atau 4 kali, ada juga yang memerlukan treatment lebih dari itu.

Saat dia datang ke kantor hari itu, dia mengambil paket yang dialamatkan padanya. Saat temanku bertanya "How are you?" dia menjawab "Not too bad." Sesudah menerima paketnya, temanku mengatakan padanya "Have a good day." Dia menjawab "I'll try ..." sambil tersenyum.

Nampak kelelahan di wajahnya. Pipinya yang berwarna kemerahan akibat radiasi yang dijalaninya membuatnya tidak nampak sehat. Dengan berbalutkan jaket coklat sambil menenteng backpacknya, dia keluar dari kantor kami.

Kalimat "I'll try" yang diucapkan pasien ini membuatku merenung. Barangkali treatment yang dijalaninya melelahkan. Tidak hanya secara fisik, melainkan juga secara mental dan ekonomi. Siapa yang tidak cemas dan takut saat dirinya divonis mengidap penyakit separah ini? Sudah pasti segala cara akan diupayakannya untuk menyembuhkan penyakitnya. 

Karenanya, makna kalimat "I'll try" mungkin tidak hanya berlaku untuk hari itu saja ... Kalimat ini barangkali bermakna: AKU AKAN MENCOBA setiap kesempatan yang memungkinkanku menjadi lebih sehat dari hari ke hari ...